BERITA RAKYAT ACEH | Pidie Jaya – Palang Merah Imdonesia (PMI) Aceh terus merecovery infrastruktur berupa pembersihan kawasan pemukiman di Pidie Jaya pasca banjir bandang 26 Nopember 2025 .
Program ini telah berhasil membersihkan lumpur yang menumpuk baik di jalanan maupun masuk dalam rumah penduduk khususnya di kawasan Desa Beurawang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay)

Ketua PMI Aceh yang diwakili Ketua Bidang PB (Penanggulangan Bencana) PMI Aceh Musni Hafas yang akbrab disapa Alex dalam kunjungannya ke Pijay, Kamis (2/4) 2026 menyaksikan langsung proses pembersihan tersebut dan sekaligus memberikan arahan kepada pekerja di hari terakhir.
‘Kita sudah bergerak sejak 15 Februari dan berakhir pada 31 Maret, dan masyarakat sangat terbantu apa yang kita lakukan ini’, ujar Musni Hafas lagi.

Proses pembersihan lumpur yang sudah mengeras itu menggunakan alat berat diankut oleh truk yang disewa PMI Aceh. Lalu tanah buangan itu diberikan ada untuk penimbunan lahan huntara, perpustakaan, pesantren, dayah yang bermanfaat bagi masyarakat.
PMI Aceh melalui PMI Pusat turut membantu meringankan masyarakat korban banjir bandang dan lumpur yang terdampak di sejumlah kabupaten/kota yang di provinsi Aceh.
“Ini merupakan bantuan dari PMI Pusat yang diketuai Yusuf Kala bersama PMI Aceh,’ ungkap Alex didampingi pengurus PMI Pidie Jaya, Azhar.
Terima kasih PMI
Sementara Yusra ST Keuchik Beurawang, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya menyampaikan terima kasih kepada PMI Aceh dengan program pembersihan kawasan pemukiman di desanya.
Pembersihan ini sangat terbantu bagi 260 KK korban yang ada di Desa Beurawang. Karena kalau dikerjakan masing masing rumah justru tidak akan sanggup dan waktunya lama, kata Keuchik Yusra
Ia menyebutkan, bantuan dari Pemerintah memang ada diberikan telah dana talangan sekitar Rp 8 juta/kk sebagai bentuk kepedulian bagi korban masyarakat.
Rata rata katanya lagi, rumah warga yang tertimbun tanah longsor dikerjakan beberapa pemuda setempat dengan digaji Rp 150/hari.
Adalah Khatijah (50) bersama adiknya Rukiah Desa Beurawang, rumahnya tertimbun tanah lumpur setinggi hampir dua meter, dan ia tak sanggup membersihkan dan akhirnya menggaji pekerja Rp 150/hari dan dua minggu bersih di bagian dalam.
Begitu juga Hamzah Abu bersama istrinya, juga menggaji pekerja untuk mengangkut tanah lumpur dalam rumahnya dan ditumpuk di depan rumah kemudian diangkut oleh truk bantuan PMI Aceh ke tempat penimbunan ke lokasi lain. (imj)
