Wakil Ketua I Pengprov PBVSI Musa Bintang Ada Oknum Minta Upeti ke Pengcab

Segera Berkoordinasi dengan KONI Kabupaten Untuk Benahi Pengcab

BERITA RAKYAT ACEH | Banda Aceh – Wakil Ketua I Bidang Organisasi Pengprov Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Aceh, Dr Musa Bintang mengakui adanya isu miring yang menerpa PBVSI Aceh, terkait soal upeti kepada para pihak yang dilakukan oleh oknum di lingkup Pengprov PBVSI Aceh.

“Saya mendapat laporan atau pengaduan dari beberapa pihak, termasuk pengurus daerah, pegiat bola voli hingga pemilik klub,” kata Musa Bintang, saat dikonfirmasi oleh media, Minggu (05/04/2026) malam ini.

Namun Musa Bintang dengan tegas mengatakan, dirinya tak tahu menahu dengan praktik yang menurutnya, seandainya benar adanya, maka sangat naif atau malah tabu dilakukan. “Kita di bidang olahraga ini dituntut totalitas tanpa jerih, karena ini adalah bakti kita kepada dunia olahraga. Bukan malah cari makan di organisasi olahraga,” kata Musa Bintang, petinggi Universitas Abul Yatama Aceh.

Menurut Musa Bintang, untuk menjernihkan semua ini, ia akan berkoordinasi langsung dengan Ketua Umum Pengprov PBVSI Aceh, Ir Mawardi Ali. “Saya jamin Pak Ketum juga tak tahu menahu soal ini, dan memang pernah saya tanyakan. Beliau juga prihatin kok ada praktik tak terpuji di tubuh PBVSI Aceh,” kata Musa Bintang.

Musa Bintang juga mengakui jika banyak Pengcab PBVSI di Aceh yang kini vakum. Sementara kegiatan Pra PORA sudah di pelupuk mata. Untuk itu ia bersama Ketum juga akan berkoordinasi dengan KONI Kabupaten/kota untuk mencari solusi terhadap problema tersebut.

“Jika memang butuh mandat, kita akan berikan sejauh procedural dan demi kemajuan dunia voli Aceh. Saya pastikan tak biaya untuk mandat tersebut. Kami minta pegiat voli di Aceh mendukung langkah-langkah pembenahan ini,” tutur Musa Bintang.
Sementara itu beberapa pegiat bola voli, termasuk mantan pemain, pelatih dan pemilik klub kini sedang melakukan upaya-upaya intensive untuk menyelamatkan dunia voli Aceh.

Mereka bersedia bekerja all out untuk mengembalikan marwah bola voli Aceh yang kini mati suri. “Kami cinta dengan dunia voli, ini telah menjadi darah yang mengalir dalam tubuh kami. Untuk itu kami bersedia membantu apapun langkah konkret untuk kembali menghidupkan voli Aceh,” tegas Azwar seorang pemilik klub.

Sebelumnya, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh menyatakan rasa prihatin atas kisruh berkepanjangan di tubuh organisasi bola voli Pengprov PBVSI Aceh. Bermacam isu miring melanda organisasi itu, mulai dari SK ganda, hingga penarikan upeti untuk rekom Muskab hingga turnamen resmi yang diadakan Pengcab atau klub. “Kita berharap agar kondisi itu segera berakhir, KONI hanya sebagai pembina, karena PBVSI juga salah satu Cabor anggota KONI Aceh,” kata Ketua Umum (Ketum) KONI Aceh Saiful Bahri (Pon Yaya) melalui Waketum 1 Bidang Organisasi KONI Aceh, Drs HT Rayuan Sukma, Jumat (03/04/2026) siang.

Beberapa sumber di lingkaran Pengprov PBVSI Aceh mengatakan, masa kepengurtusan Mawardi berakhir tahun 2027. Saat ini sebagaian besar Pengcab PBVSI di Aceh dalam kandisi vakum. “Anehnya pihak Pengprov malah menunjuk koordinator voli untuk tujuan Pra PORA sementara tugas itu selama ini dilakukan oleh Pengcab masing msing berkoordinasi dengan KONI setempat,” kata sumberr tersebut.
Rumors lain menyebutkan, pihak Pengprov tak mengikutsertakan daerah potensial dalam event resmi, seperti Pra Pora. Daerah itu antara lain, Aceh Besar, Bireun, Lhokseumawe dan Sigli. Khusus Aceh Besar sebagaian besar pemainnya telah pindah ke daerah daerah yang berpotensi ikut pra PORA. Praktis voli Aceh Besar dan Banda Aceh kini nyaris vakum kegiatan.
Yang lebih ironis, sumber tersebut menunjukkan SK Pengprov PBVSI Aceh yang keluar tanggal yang sama, yaitu tanggal 8 September 2023 yang diteken langsung oleh Ketua PB PBVSI Komjen Pol (Purn) Drs Imam Sudjarwo MSi, namun terdapat dua SK yang sama, dengan nama pengurus yang berbeda. Tak diketahui mana SK yang asli atau ‘perubahan’.
Selain itu, sumber sumber .lainnya mengungkap adanya setoran ‘upeti’ kepada pihak Pengprov jika ingin melaksanakan turnamen bola voli. Bahkan juga terkait untuk melaksanakan Muskab pemilihan Pengcab. “Ini sangat memberatkan, selama ini tradisi seperti itu tak pernah ada, kami akan laporkan serta berkoordinasi dengan KONI Aceh selaku induk organisasi olahraga di Aceh,” kata seorang pemilik klub yang juga pengurus bola voli level kabupaten/kota. (*)