Sulaiman Juned Akan Bahas Keaktoran dan Puisi di Universitas Jambi

BERITA RAKYAT ACEH | Jambi — Universitas Negeri Jambi (UNJA) akan menggelar Workshop Kreativitas Sastra bertajuk “Keaktoran dan Puisi: Dua Wajah Ekspresi Sastra” pada Selasa, 14 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn. sebagai narasumber utama yang akan mengupas keterkaitan antara seni peran dan puisi sebagai medium ekspresi yang saling menguatkan.

Sulaiman Juned dikenal sebagai penyair, esais, kolumnis, sutradara teater, sekaligus dosen Jurusan Seni Teater ISI Padangpanjang. Ia juga pendiri dan penasihat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, serta aktif dalam berbagai kegiatan kebudayaan di tingkat nasional.

Dalam workshop ini, Sulaiman akan membedah seluk-beluk seni berperan yang menjadi fondasi utama dalam dunia teater. Ia menekankan bahwa kemampuan berakting tidak dapat diperoleh secara instan, melainkan melalui latihan yang dilakukan secara periodik, disiplin, dan penuh tanggung jawab.

Proses kreatif seorang aktor, menurutnya, menuntut ketekunan sekaligus keikhlasan dalam berkarya.

“Seorang aktor bukan sekadar membaca naskah lalu tampil di atas panggung. Ia harus mampu membangun bentrokan emosi dan menghadirkan kehidupan dalam perannya,” demikian garis besar pemikiran yang akan disampaikan Sulaiman dalam sesi materi.

Ia juga akan menyoroti pentingnya tubuh sebagai instrumen utama dalam keaktoran. Tubuh tidak hanya berfungsi sebagai alat gerak, tetapi juga sebagai medium ekspresi yang menyatukan emosi, pernapasan, dan kekuatan. Dalam praktiknya, aktor dituntut mampu membebaskan tubuh agar dapat merespons secara refleks terhadap situasi dramatik.

Menurut Sulaiman, dalam proses kreatif, hubungan antara tubuh dan pikiran bersifat dinamis. Tidak selalu pikiran yang mengendalikan gerak, tetapi dalam banyak situasi, justru tubuh dapat memengaruhi dan memandu pikiran.

“Pembebasan tubuh ini menjadi langkah penting dalam menemukan kejujuran ekspresi di atas panggung,” katanya.

Selain aspek tubuh, ia juga akan mengulas pengolahan vokal sebagai kendaraan imaji dalam menyampaikan dialog. Suara dipandang bukan sekadar bunyi, melainkan alat ekspresi yang membentuk wujud peran. Karena itu, aktor perlu menguasai teknik pernapasan, artikulasi, diksi, serta ritme untuk membangun kualitas dramatik yang kuat.

Dalam materi ini, Sulaiman akan membahas pentingnya latihan pernapasan yang berpusat pada kekuatan tubuh, termasuk pengembangan resonansi suara melalui dada, rongga hidung, hingga tengkorak. Penguasaan tempo dramatik yang mencakup timing, ruang, dan irama, juga menjadi elemen penting dalam membangun tangga dramatik sebuah pertunjukan.

Tidak kalah penting, ia akan mengupas dimensi batin atau sukma dalam keaktoran. Aktor dituntut memiliki konsentrasi tinggi, kemampuan mengelola emosi, serta kejujuran dalam menggali pengalaman personal sebagai sumber penciptaan peran. Pengolahan emosi, seperti marah, takut, sedih, atau terkejut, harus dilakukan dengan takaran yang tepat agar terasa hidup dan tidak berlebihan.

Sulaiman juga akan membahas proses kemunculan peran di atas panggung, mulai dari teknik menarik perhatian penonton, membangun karakter, hingga menjalin kerja sama dengan sesama aktor. Ia menekankan pentingnya kesadaran terhadap alur cerita agar tidak terjadi pengulangan pola yang melemahkan dramatika.

Selain keaktoran, workshop ini juga akan menyentuh wilayah puisi, khususnya dalam kaitannya dengan ekspresi performatif. Sulaiman akan menguraikan bagaimana puisi tidak hanya ditulis, tetapi juga dihidupkan melalui suara, tubuh, dan panggung. Berbagai bentuk seperti deklamasi, baca puisi, hingga teatrikalisasi puisi akan menjadi bagian dari pembahasan.

Dalam teknik membaca puisi, ia akan menekankan pentingnya penghayatan terhadap tema, amanat, serta unsur kebahasaan. Vokal, intonasi, jeda, dan ekspresi menjadi perangkat utama dalam menyampaikan puisi secara efektif kepada audiens.

Melalui workshop ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami teori keaktoran dan puisi, tetapi juga mampu mengintegrasikan keduanya dalam praktik. Perpaduan antara olah tubuh, vokal, dan bahasa diharapkan dapat melahirkan ekspresi sastra yang lebih utuh dan berdaya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UNJA dalam memperkuat literasi dan apresiasi seni di kalangan mahasiswa, sekaligus membuka ruang dialog antara sastra dan seni pertunjukan. (*)