BERITA RAKYAT ACEH | Banda Aceh – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh mulai membidik peluang besar di sektor industri peternakan modern. Organisasi ini menyiapkan lahan seluas 1.050 hektare di wilayah Aceh Besar sebagai langkah awal pengembangan kawasan peternakan berbasis teknologi.
Ketua Kadin Aceh, Muhammad Iqbal, mengungkapkan proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi hingga US$120 juta atau setara sekitar Rp2 triliun. Nilai ini dinilai realistis mengingat konsep peternakan yang akan dibangun mengadopsi sistem modern berbasis teknologi “closed house”.
“Selama ini belum ada pengusaha lokal yang mampu membangun investasi sebesar itu. Kita bicara sekitar 120 juta dolar AS. Kandangnya nanti sudah menggunakan sistem modern, bukan seperti kandang konvensional yang ada sekarang,” kata Iqbal Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, kehadiran investasi besar ini bukan semata untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga diarahkan untuk menyasar pasar ekspor yang potensinya masih terbuka lebar.
Iqbal menegaskan, masuknya investor besar termasuk kemungkinan dari luar negeri tidak perlu dikhawatirkan akan mematikan usaha peternak kecil. Justru sebaliknya, model industri yang dibangun akan mengedepankan pola kemitraan.
“Perusahaan besar itu nantinya akan menjadi pembina. Peternak lokal tidak ditinggalkan, tapi justru diperkuat melalui dukungan pakan, obat-obatan, sampai transfer teknologi. Ini yang kita dorong,” ujarnya.
Ia juga menyoroti posisi strategis Aceh dalam peta perdagangan regional, khususnya kedekatan geografis dengan pasar potensial seperti Kepulauan Nicobar di India.
“Kalau dari Aceh ke Nicobar hanya sekitar 150 kilometer. Sementara dari daratan India bisa lebih dari 2.000 kilometer. Ini peluang besar yang harus kita manfaatkan,” kata Iqbal.
Selain mendorong ekspor, proyek ini diyakini akan memberikan dampak ekonomi signifikan bagi daerah. Salah satu sektor yang akan terdongkrak adalah pertanian jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak.
Iqbal memperkirakan sektor ini saja bisa menyerap hingga 12.000 tenaga kerja, belum termasuk industri turunan dan sektor pendukung lainnya.
Namun demikian, ia tidak menampik masih adanya sejumlah tantangan yang dihadapi, terutama terkait akses pembiayaan. Menurutnya, tingginya suku bunga perbankan dan ketatnya persyaratan agunan masih menjadi kendala utama bagi pelaku usaha di sektor pertanian dan peternakan.
“Masalah kita hari ini adalah permodalan. Bunga bank masih tinggi, di atas 10 persen, dan petani atau peternak sering terkendala di agunan. Ini harus jadi perhatian bersama,” ujarnya.
Iqbal juga mengingatkan pentingnya menjaga iklim investasi yang kondusif di Aceh. Ia menilai, narasi negatif yang tidak berbasis data justru berpotensi menghambat masuknya investasi ke daerah.
“Kita harus jaga bersama. Jangan sampai komentar-komentar tanpa data justru membuat investor ragu. Aceh butuh investasi untuk tumbuh,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pengembangan industri peternakan ini merupakan bagian dari visi besar Kadin Aceh untuk mendorong kemandirian ekonomi daerah.
“Kita ingin Aceh mandiri di bidang pangan, industri, dan manufaktur. Selama ini banyak kebutuhan pokok kita didatangkan dari luar. Ke depan, kita ingin Aceh bisa berdiri di kaki sendiri,” pungkas Iqbal(Dialeksis.com)
