BERITA RAKYAT ACEH I Banda Aceh – Harga daging di sejumlah pasar tradisional di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga yang terjadi secara bertahap sejak akhir tahun lalu diperkirakan masih akan berlanjut hingga menjelang hari-hari besar keagamaan.
Berdasarkan pantauan pedagang di pasar tradisional, harga daging pada Desember lalu masih berada di kisaran Rp140 ribu per kilogram. Namun memasuki Mei 2026, harga mulai meningkat menjadi Rp160 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram.
Para pedagang menyebutkan, kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat serta pasokan hewan ternak yang mulai berkurang dari distributor dan peternak. Selain itu, biaya distribusi serta tingginya kebutuhan pasar menjelang hari besar juga turut memengaruhi kenaikan harga di tingkat pedagang.
Ketua Pedagang Daging Pasar Lamdingin, Herlin Fuadi, mengatakan kenaikan harga terjadi hampir setiap bulan sejak awal tahun. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan pola yang hampir selalu terjadi menjelang perayaan hari besar keagamaan ketika permintaan masyarakat meningkat tajam.
“Kalau Desember masih sekitar Rp140 ribu per kilo. Sekarang sudah Rp160 ribu sampai Rp170 ribu. Biasanya kalau mendekati hari besar bisa naik lagi sampai Rp180 ribu bahkan Rp200 ribu per kilo,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, meningkatnya permintaan masyarakat membuat stok daging lebih cepat habis dibandingkan hari biasa. Sementara pasokan yang masuk ke pasar tidak selalu stabil sehingga harga cenderung terus bergerak naik dari pekan ke pekan.
Menurut Herlin, kondisi tersebut juga dipengaruhi jumlah sapi potong yang tersedia di tingkat peternak mulai terbatas. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat menjelang hari besar meningkat signifikan, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kuliner.
Selain faktor permintaan, mahalnya harga daging juga dipengaruhi kenaikan harga pasokan sapi dari distributor. Menurutnya, biaya pembelian sapi ikut mengalami peningkatan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Kondisi itu turut berdampak pada harga sapi impor yang didatangkan dari luar negeri.
“Karena ada beberapa jenis sapi yang dipasok dari luar negeri, jadi ketika rupiah melemah harga ikut naik. Ongkos distribusi juga bertambah karena BBM naik,” katanya.
Ia menambahkan, pedagang akhirnya harus menyesuaikan harga jual agar tetap bisa menutupi biaya operasional dan pembelian stok dari pemasok.
“Kalau stok sedikit sementara permintaan naik, otomatis harga ikut naik. Pedagang juga menyesuaikan dengan harga dari pemasok,” lanjutnya.
Kenaikan harga daging mulai dikeluhkan sebagian masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada stabilitas harga kebutuhan pokok. Mereka berharap pemerintah dapat mengambil langkah pengendalian agar lonjakan harga tidak semakin memberatkan masyarakat.
Salah seorang warga Banda Aceh mengaku kenaikan harga cukup terasa dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, pengeluaran rumah tangga menjadi lebih besar karena hampir seluruh kebutuhan pokok mengalami kenaikan menjelang hari besar.
“Kalau terus naik tentu cukup berat bagi masyarakat. Apalagi menjelang hari besar biasanya kebutuhan juga semakin banyak,” ujarnya.
Selain faktor tingginya permintaan, cuaca dan distribusi juga disebut menjadi penyebab naiknya harga di pasaran. Pedagang berharap pasokan dari distributor tetap lancar sehingga lonjakan harga dapat ditekan dan tidak melonjak terlalu tinggi saat memasuki puncak perayaan hari besar.
Pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan pemantauan pasar secara rutin guna menjaga kestabilan harga dan memastikan ketersediaan stok daging di pasaran tetap aman. Dengan demikian, masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan menjelang hari besar keagamaan.(jar)
