Dosen Poltekkes Kemenkes Aceh Ubah Kebiasaan Sikat Gigi Anak SD di Gampong Lamlagang Lewat Inovasi Buku Sogi

Nasri, Herry Imran, Andriani, Ratna Wilis, Niakurniawati, Agus Hendra Al Rahmad, Cut Ratna Keumala

BERITA RAKYAT ACEH | Banda Aceh – Tim Dosen Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Aceh meluncurkan program pengabdian kepada masyarakat (pengabmas) yang inovatif di Gampong Lamlagang, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh. Mengusung strategi jemput bola melalui metode kunjungan rumah (home visit), tim pengabmas mengenalkan Buku Sogi (Logbook Monitoring Gigi Anak) sebagai instrumen utama untuk memperbaiki perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) anak usia sekolah dasar.

Kegiatan yang diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) dengan perangkat Gampong Lamlagang, dijadwalkan berlangsung dari April hingga Juni 2026 ini dipimpin oleh Nasri (Ketua Tim Pelaksana), bersama anggota tim, serta melibatkan secara aktif tiga orang mahasiswa.

Program pengembangan desa mitra ini menyasar anak usia sekolah dasar (6–12 tahun) yang tersebar di empat dusun di Gampong Lamlagang, yaitu Dusun Raja Jali, Dusun Raja Reubah, Dusun Panglima Nyak Raja, dan Dusun Panglima Hasan.

Ketua Tim Pelaksana Pengabmas, Nasri, menjelaskan bahwa program ini didasari oleh temuan awal (screening) yang cukup mengkhawatirkan dilapangan. Dari hasil pemeriksaan awal terhadap sampel anak di wilayah tersebut, tercatat bahwa 93,3% anak (28 dari 30 anak) teridentifikasi mengalami karies gigi (gigi berlubang), dan rata-rata indeks kerusakan gigi (DMF-T/def-t) mencapai angka 4,6 per anak.

Angka ini masuk dalam kategori tinggi dan jauh melampaui ambang batas target nasional. Kondisi ini diperparah dengan status kebersihan gigi dan mulut (indeks PHP-M) yang mayoritas berada di kategori Buruk (skor 43 dari target nasional maksimal 20). Hasil wawancara mengindikasikan bahwa sebesar 70% anak tidak melakukan praktik menyikat gigi sebelum tidur malam, mayoritas di antaranya masih mengonsumsi camilan setelah menyikat gigi pada malam hari, lalu langsung beranjak tidur tanpa membersihkan rongga mulut kembali  dan 90% di antaranya belum memahami teknik menyikat gigi yang benar, yang diindikasikan oleh kegagalan dalam membersihkan seluruh permukaan gigi secara merata,” ungkap Nasri.

Kondisi kerusakan gigi pada anak ini tidak boleh disepelekan karena berkorelasi linear dengan gangguan belajar, penurunan konsentrasi, rasa nyeri, hingga gangguan pengunyahan yang memengaruhi kualitas hidup anak.

Solusi Inovatifi Melalui ‘Buku Sogi’ dan Pendekatan Keluarga, untuk menekan angka karies tersebut dan meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut anak, tim Poltekkes Kemenkes Aceh menerapkan gagasan edukasi personal langsung ke rumah warga (home visit) didampingi oleh para kader posyandu setempat. Dalam kunjungan tersebut, tim memberikan paket sikat gigi, pasta gigi ber-fluoride, serta mengenalkan Buku Sogi.

Buku Sogi merupakan media visual edukatif interaktif yang didesain agar aktivitas menyikat gigi menjadi menyenangkan. Di dalam buku ini terdapat lembar monitoring harian yang wajib diisi oleh anak (berupa ceklis) setelah selesai sikat gigi pagi (setelah sarapan) dan malam (sebelum tidur).

Selain memberikan edukasi, dosen dan mahasiswa juga mendemonstrasikan/simulasi metode menyikat gigi sirkuler /memutar (Metode Fones). Menariknya, pasca-simulasi awal, 93% anak peserta langsung mampu memperaga-kan gerakan memutar (sirkuler) sesuai panduan Buku Sogi dengan benar.

Menggunakan model gigi, tim pengabmas memperagakan langsung teknik menyikat gigi sirkuler (Metode Fones) yang benar di hadapan anak-anak

Pemantauan berkelanjutan secara digital guna memastikan konsistensi perubahan perilaku anak minimal selama 21 hari (waktu minimal pembentukan kebiasaan baru), tim menerapkan metode Active-Collaborative Monitoring. Setiap pukul 21.00 WIB,  tim    mengirimkan   pesan pengingat ceria di grup WhatsApp orang tua peserta seperti “Assalamualaikum Ayah dan Bunda warga Gampong Lamlagang.Tahukah kita kalau sisa makanan yang menempel saat anak tidur adalah penyebab utama gigi berlubang? Jam 09.00 malam ini adalah waktu yang tepat untuk “Misi Sikat Gigi” bersama anak! Mari kita bantu anak-anak membangun kebiasaan baik ini. Sikat gigi hanya butuh 2 menit, tapi manfaatnya seumur hidup. Ayo, sikat gigi sekarang!”. Orang tua kemudian diminta mengirimkan foto lembar monitoring yang telah terisi setiap minggunya untuk mendapatkan apresiasi stiker digital sebagai “Pahlawan Gigi Minggu Ini”.

Keuchik Gampong Lamlagang beserta perangkat dusun menyambut hangat program ini. Program ini diharapkan tidak hanya mengubah perilaku anak secara mandiri, tetapi juga mengedukasi orang tua agar lebih mengontrol konsumsi makanan manis (kariogenik) di tingkat keluarga.

Melalui dukungan IPTEK kesehatan dan digital ini, Poltekkes Kemenkes Aceh berharap kegiatan di Gampong Lamlagang dapat menjadi pilot project nasional bagi model promotif-preventif kesehatan gigi berbasis home visit yang efektif dan berkelanjutan.