BERITA RAKYAT ACEH | Padangpanjang,- Mahasiswa asal Susoh, Balang Pidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (30/6/2026) di Hotel Aulia Padang Panjang bernama Ampoen Fachrial Pamerkan Pameran Karya Desain Komunikasi Visual bertajuk “Perancangan Typeface Adaptasi Dari Motif Rumpun Biluluk Aceh Barat Daya”. Mahasiswa Strata 1 Prodi Desain Komunikasi Visual ISI Padang Panjang. Karya tugas akhirnya sebagai bagi generasi muda tentang melestarikan adat budaya dan sebagai sebuah identitas dalam visual karya motif desain.
Pengkarya Ampoen Fachrial mengatakan, Motif rumpun biluluk merupakan salah satu kreasi motif etnis yang berasal dari kabupaten Aceh Barat Daya. Alasan mengambil motif Rumpun biluluk. Saat ini motif Rumpun biluluk tergolong motif baru di Aceh. Terciptanya motif rumpun biluluk ini untuk merepresentasikan identitas. Serta ciri khas adat dan budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Aceh Barat Daya itu sendiri. Paparnya.
Ampoen menambahkan, Motif rumpun biluluk terinspirasi dari adat budaya manoe pucok. Upaya untuk melestarikan adat budaya manoe pucok salah satunya dengan menciptakan motif, pencipta motif rumpun biluluk memodifikasikan bentuk-bentuk perlengkapan manoe pucok, yaitu nyiu menjadi rangkaian motif etnik yang dapat diaplikasikan pada kain, pakaian, dan peralatan lain yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Ucapnya.
Pengunjung Pameran, Desainer Muda Mursiddiq, S.Ds., M.Sn. salah satu dari pengunjung pameran mengatakan, Karya dari desain Ampoen Fachrial ini, menghadirkan nuansa Aceh yang modern. Ampoen Fachrial mampu mengangkat sebuah budaya dalam typography tanpa ada terkesan memaksa. Karya Visual nya itu menghasilkan karya typography yang estetik modern dengan tidak menghilangkan ciri khas dari motif rumpun biluluknya. Ampoen tidak hanya menunjukkan keahlian teknis saja sebagai seorang desainer muda. Tetapi juga kepekaan dalam menafsirkan narasi Motif rumpun biluluk menjadi elemen visual yang segar, komunikatif, dan estetis. Tuturnya.
Mursidiq menambahkan, Menariknya, pameran ini juga merangkai mengvisualkan typography huruf – huruf abjad indah yang mampu menyegarkan mata disaat melihatnya.
Budayawan Aceh Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., mengatakan, Perancangan typeface yang dilakukan Ampoen Fachrial adaptasi dari motif rumpun biluluk tidak hanya sekedar menjadikannya sebagai sebuah karya desain grafis, namun juga strategi dalam pelestarian adat dan budaya. Tutur Dosen Jurusan Teater ISI Padangpanjang.
Ampoen menrgaskan, Kata Rumbiya diambil dari singkatan Rumpun Biluluk Aceh Barat Daya, nama yang dipilih agar mudah diingat dengan membawa identitas baru didalam dunia typography.
Proses perancangan karya ini meliputi sintesis ide, eksplorasi bentuk, Stilasi, sketsa manual, digitalisasi dengan Adobe Illustrator, hingga pemprograman Font melalui Fontlab. Typeface yang dihasilkan, bernama Rumbiya Typeface, Dikategorikan sebagai display typeface dengan format OTF (Open Type Font) yang dapat digunakan pada berbagai perangkat digital. Rumbiya Typeface tidak hanya Berfungsi sebagai karya desain grafis, tetapi juga sebagai strategi pelestarian Budaya, memperkuat eksistensi motif rumpun biluluk, serta membuka peluang Pemanfaatan dalam media komunikasi dan produk kreatif. Dengan demikian, karya Ini diharapkan mampu menjadi identitas visual baru yang merepresentasikan Kekayaan budaya Aceh Barat Daya. Pungkasnya (*/Ichsan)
