BERITA RAKYAT ACEH | Banda Aceh – Panitia Zikir, Doa Tolak Bala dan Aksi Bela Nanggroe dan Syariat mengedarkan surat undangan kepada para pimpinan dayah di Aceh untuk menghadiri kegiatan zikir, doa bersama, dan aksi damai yang dijadwalkan berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Agustus 2026.
Surat bertanggal 28 Juli 2026 yang ditandatangani Koordinator Panitia, Muslim At Tahiry, mengajak para ulama, pimpinan dayah, santri, dan masyarakat untuk hadir dalam kegiatan yang disebut sebagai bentuk ikhtiar spiritual sekaligus menyuarakan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang dinilai tengah dihadapi Aceh.
Dalam surat tersebut, panitia menyampaikan sejumlah isu yang menjadi perhatian, antara lain dugaan meningkatnya pelanggaran syariat Islam, persoalan perjudian, maisir dan khamar, maraknya tempat hiburan yang dianggap bertentangan dengan syariat, praktik korupsi, pengelolaan hasil bumi Aceh, rencana pengelolaan gas Andaman oleh pemerintah pusat, hingga penanganan korban banjir yang dinilai belum optimal.
Panitia juga menilai kondisi pascabanjir di sejumlah wilayah Aceh masih membutuhkan perhatian serius. Dalam surat itu disebutkan bahwa ribuan hektare sawah belum dapat dimanfaatkan kembali, sejumlah jembatan belum diperbaiki, serta jaringan irigasi masih mengalami kerusakan.
“Melalui zikir, doa tolak bala, dan aksi bela nanggroe serta syariat, kami berharap menjadi perhatian penyelenggara kekuasaan,” demikian salah satu bagian isi surat undangan tersebut.
Selain zikir dan doa bersama, kegiatan juga direncanakan diisi dengan penyampaian orasi dari sejumlah tokoh. Panitia turut mengundang sejumlah ulama sebagai penasihat acara, di antaranya Abu di Ketapang, Abi Lampisang, Abi Ishak Lamkawi, Abu Muda Pelanteu, Tgk. Saiid Syahrizal, dan Abah Sarah Tebe.
Panitia mengimbau para pimpinan dayah untuk mengirimkan santri dan mengajak jamaah agar menghadiri kegiatan tersebut sebagai bentuk kebersamaan dalam mendoakan keselamatan Aceh dan menyampaikan aspirasi secara damai.
