Nasri, Herry Imran, Andriani, Ratna Wilis, Niakurniawati, Cut Ratna Keumala
BERITA RAKYAT ACEH | Banda Aceh – Tim Dosen Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Aceh sukses mentransformasi perilaku kesehatan gigi dan mulut anak usia sekolah dasar (6–12 tahun) di Gampong Lamlagang, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh. Mengusung strategi jemput bola berbasis kunjungan rumah (home visit) dan pemanfaatan Buku Sogi (Logbook Monitoring Gigi Anak), program pengabdian kepada masyarakat (pengabmas) ini berhasil mengeliminasi indikator kebersihan mulut yang buruk hingga 0%, sekaligus mencatatkan lonjakan kemandirian anak menyikat gigi hingga 99%.
Kegiatan yang diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) dengan perangkat Gampong Lamlagang, dijadwalkan berlangsung dari April hingga pertengahan Agustus 2026 ini dipimpin oleh Nasri (Ketua Tim Pelaksana), bersama anggota tim, serta melibatkan secara aktif tiga orang mahasiswa.
Program pengembangan desa mitra ini menyasar anak usia sekolah dasar (6–12 tahun) yang tersebar di empat dusun di Gampong Lamlagang. Ketua Tim Pelaksana Pengabmas, Nasri, menjelaskan bahwa program ini didasari oleh temuan awal (screening) yang cukup mengkhawatirkan dilapangan. Dari hasil pemeriksaan awal terhadap sampel anak di wilayah tersebut, tercatat bahwa 93,3% anak (28 dari 30 anak) teridentifikasi mengalami karies gigi (gigi berlubang), dan rata-rata indeks kerusakan gigi (DMF-T/def-t) mencapai angka 4,6 per anak. Angka ini masuk dalam kategori tinggi dan jauh melampaui ambang batas target nasional.
Kondisi ini diperparah dengan status kebersihan gigi dan mulut (indeks PHP-M) yang mayoritas berada di kategori Buruk (skor 43 dari target nasional maksimal 20).
Hasil wawancara mengindikasikan bahwa sebesar 70% anak tidak melakukan praktik menyikat gigi sebelum tidur malam, mayoritas di antaranya masih mengonsumsi camilan setelah menyikat gigi pada malam hari, lalu langsung beranjak tidur tanpa membersihkan rongga mulut kembali dan 90% di antaranya belum memahami teknik menyikat gigi yang benar, yang diindikasikan oleh kegagalan dalam membersihkan seluruh permukaan gigi secara merata,” ungkap Nasri.
Kondisi kerusakan gigi pada anak ini tidak boleh disepelekan karena berkorelasi linear dengan gangguan belajar, penurunan konsentrasi, rasa nyeri, hingga gangguan pengunyahan yang memengaruhi kualitas hidup anak.
Solusi Inovatifi Melalui ‘Buku Sogi’ dan Pendekatan Keluarga, untuk menekan angka karies tersebut dan meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut anak, tim Poltekkes Kemenkes Aceh menerapkan gagasan edukasi personal langsung ke rumah warga (home visit) didampingi oleh para kader posyandu setempat. Dalam kunjungan tersebut, tim memberikan paket sikat gigi, pasta gigi ber-fluoride, serta mengenalkan Buku Sogi.
Pemantauan berkelanjutan secara digital guna memastikan konsistensi perubahan perilaku anak minimal selama 21 hari (waktu minimal pembentukan kebiasaan baru), tim menerapkan metode Active-Collaborative Monitoring. Setiap pukul 21.00 WIB, tim mengirimkan pesan pengingat ceria di grup WhatsApp orang tua peserta.
Orang tua kemudian diminta mengirimkan foto lembar monitoring yang telah terisi setiap minggunya untuk mendapatkan apresiasi stiker digital sebagai “Pahlawan Gigi Minggu Ini”. (*)
