Penulis : Fauzi Aldina
BERITA RAKYAT ACEH – Bencana yang melanda Aceh saat ini tidak hanya meninggalkan luka fisik pada lanskap dan infrastruktur, tetapi juga luka psikologis yang dalam di hati masyarakat. Dalam konteks ini, empati bukan sekadar rasa kasihan sesaat, melainkan sebuah kebutuhan fundamental dan kekuatan kolektif untuk membangun kembali kehidupan.
Empati di tengah bencana Aceh memiliki makna yang kompleks. Ia adalah kemampuan untuk tidak hanya “merasa untuk” korban, tetapi juga “merasa dengan” mereka. Ini berarti memahami bahwa trauma yang dialami bukan hanya tentang kehilangan harta benda, tetapi juga tentang hilangnya rasa aman, kenangan, dan masa depan yang telah direncanakan. Empati mengakui bahwa di balik angka statistik korban, ada cerita-cerita individual yang unik dan menyakitkan.
Pasca-tsunami 2004, gelombang empati global yang membanjiri Aceh adalah contoh nyata. Bantuan internasional tidak hanya berupa tenda dan obat-obatan, tetapi juga keberadaan relawan yang mendengarkan, memeluk, dan menghargai martabat korban. Empati itu terwujud dalam desain bantuan yang mulai mempertimbangkan sensitivitas budaya dan agama masyarakat Aceh, seperti menyediakan ruang privat untuk perempuan atau makanan yang sehat. Ini menunjukkan bahwa empati yang efektif adalah yang kontekstual.
Namun, empati juga harus berkelanjutan dan sistemik. Pasca-bencana, sering muncul “kelelahan berempati” di mana perhatian publik bergeser. Empati sejati menuntut komitmen jangka panjang untuk memahami fase-fase pemulihan: dari darurat, rehabilitasi, hingga rekonstruksi. Empati sistemis ini harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang pro-pemulihan psikososial, dukungan ekonomi berkelanjutan, dan pengurangan risiko bencana yang partisipatif.
Di tingkat komunitas, empati menjadi perekat sosial. Tradisi “peusijuek” (ritual penyembuhan) dan “peusaringan” (saling mengunjungi) yang hidup dalam budaya Aceh adalah bentuk empati yang terinstitusionalisasi. Praktik kearifan lokal ini memfasilitasi pemulihan bersama, di mana masyarakat tidak hanya dibantu, tetapi juga diberdayakan untuk saling mendukung.
Kritik terhadap empati dalam bencana sering muncul jika ia bersifat pity (mengasihani) yang justru menempatkan korban sebagai objek pasif. Empati yang benar haruslah memberdayakan, menghormati ketangguhan (resilience) masyarakat Aceh, dan melibatkan mereka sebagai subjek utama dalam proses pemulihan.
Dalam narasi bencana Aceh saat ini empati adalah anti-tesis dari keputusasaan. Ia adalah fondasi untuk respons kemanusiaan yang bermartabat, yang melihat korban sebagai manusia utuh, bukan angka. Dengan empati, rekonstruksi fisik dapat berjalan beriringan dengan penyembuhan jiwa, membangun Aceh yang tidak hanya lebih kuat secara infrastruktur, tetapi juga lebih tangguh secara sosial dan psikologis. Empati mengingatkan kita bahwa di balik setiap bencana, ada manusia yang berhak untuk pulih, bukan sekadar bertahan hidup.
Penulis merupakan dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Jabal Ghafur Sigli Aceh
