BERITA RAKYAT ACEH | Banda Aceh –Dewan Guru Nasional /Guru Besar Muaythay Aceh Syarwan Saleh minta Ketua PB Muaythay La Nyala agar legowo.
Permintaan itu sangat berdasar karena kepengurusan dibawah kepemimpinan La Nyala tidak lagi transparan dan nepotisme, ujarnya, Selasa, 7 April 2026.
Syarwan yang juga pelatih Aceh membeberkan beberapa kekesalannya pada waktu PON Aceh – Sumut 2024, dimana sekalipun tak pernah hadir di arena pada saat pertandingan beliau lebih memilih hadir ke Sumut nonton pertandingan Bolling dan Whusu.
Intinya beliau tidak suka dengan mlMuaythai, sehingga terjadi keributan. Akibat kecurangan di klas seni, yang mana Jawa Timur mau menyapu bersih medali emasnya.
Kemudian pada waktu menjelang PON Aceh – Sumut 2024 waktu itu Aceh Ketua KONI Aceh, (alm) Aburazak dan T Rayuan Sukma, T. Facrulrazzi Ravo. Sarwan selaku pelatih menemui La Nyala dan Aceh minta agar diberikan satu medali emas, dari nomor seni dari nomor kelas di PON Aceh, bahkan kami tambah dari 18 kelas di mainkan pada waktu itu Papua kami tambah jadi 22 kelas seni dari 2 kelas kami tambah jadi 4 kelas.
Namun tidak diberikan, kata La nyala 4 medali emas itu milik kami (Jawa Timur) dengan alasan Jatim sudah berlatih di Thailand selama 3 bulan dan banyak habiskan uang.
Saya bilang kami juga pakai pelatih dari Malaysia, La Nyala tetap kekeh tidak bisa, Hal ini terbukti pada saat pertandingan, dengan pengaturan ketua wasit juri seni dari Jatim, ketua wasit juri tanding juga Jatim.
Sehingga tambah Syarwan, kita buat keributan dan protes akhirnya pertandingan di stop buat rapat seluruh official/ pelatih diputuskanlah Aceh dapat 1 emas dari seni dengan selisih nilai 1 poin dari Jatim.
La Nyala, kata Syarwan mereka Muaythai Jatim. Kemudian pada PON Aceh – Sumut tahun 2024 PB Muaythay menggunakan sistem manual tidak digital padahal pada saat Pra Pon di Jatim di pakai drowing sistem digital, berulang kali di putar drowingnya Jatim tetap lawannya itu itu saja tidak ada ketemua lawan berat di penyisihan dan terjadi keributan juga pada saat Drowing.
Saya sempat dihubungi oleh kawan-kawan Pemprov kita fair play sajalah, katanya lagi. Bahkan, dalam organisasi juga La nyala memecat orang tanpa dikasih tahu apa kesalahannya atau teguran duluan.
Pada saat asesmen wasit juri dan pelatih dari dulunya setiap ikut dananya Rp 3 jt masa pak Sudirman. Namun masa La Nyala dinaikan jadi Rp 3,5 Jt/orang biayanya.
Kalau pak Dirman pada PON Jabar pertandingan eksebisi dan PON Papua, baik kejurnas liga nasional, beliau selalu hadir sampai pengalungan medali hingga penutupan.
Bahkan yang lebih parah massa La Nyala, kita boleh protes tidak boleh buka rekaman panitia dan kita yg punya. Hanya hasil scord card wasit juri saja. Kalau massa pak Dirman dibolehkan dan diputar ulang rekaman dengan di hitung ulang poinnya oleh hakim dan wasit juri tandimg di saksikan ke dua daerah yang atlitnya bermain.
Syarwan yang juga sebagai salah satu Dewan Guru Nasional sepakat dengan Pengprov se Indonesia agar La Nyala dan kepengurusannya untuk segera mundur. (imj)
