BERITA RAKYAT ACEH | Banda Aceh – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh, kembali menegaskan, semua cabang olahraga yang mengikuti event Pra PORA termasuk Cabor Bola Voli, harus mengantongi rekomendasi dari KONI Daerah atau Kabupaten/Kota. “Tanpa adanya rekomendasi itu, kita tak bertanggungjawab terhadap nasib atau kepastian atlet, baik personal maupun tim untuk ikut PORA 2026 di Aceh Jaya.”
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Harian KONI Aceh Kennedi Husein didampingi Ketua Harian PB PORA XV 2026, Muslem HS dan Wakil Ketua II KONI Aceh, Bachtiar Hasan, Selasa (14/07/2026) tadi siang. Kennedi merasa perlu mengingatkan kembali seputar rekomendasi itu, mengingat masih adanya friksi di tubuh Pengprov Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Aceh, hingga membuat terkendalanya pelaksanaan Pra PORA Cabor bola voli.
Menurut Kennedi, regulasi masalah rekomendasi itu sudah dilaksanakan jauh-jauh sesuai regulasi yang ada. Karena sebagai pembina dari semua cabang olahraga—yang terdaftar—KONI Daerah berhak memberikan rekomendasi, sebagai bagian dari legalitas penggunaan dana untuk cabor yang diberangkatkan oleh KONI masing-masing daerah menuju PORA 2026 Acxeh Jaya. “Jadi ini bukan kebijakan yang muncul belakangan, namun juga menyangkut regulasi pendanaan, terutama dalam upaya akuntabilitas dan keabsahan penggunaan dana,” kata Kennedi.
Sementara Muslem HS selaku Ketua Harian PB PORA XV menambahkan, pihaknya juga hanya menerima atau menampung kontingen yang cabornya didaftarkan olek KONI kabupaten/kota. Di luar itu tak ada toleransi sedikitpun, dalam hal keterlibatan bertanding di PORA Aceh Jaya, termasuk dalam penyediaan konsumsi dan akomodasi. “Kami telah melakukan briefing seputar itu, karena ini juga menyangkut legalitas penyelenggaraan. Jadi kami tak mau ambil risiko,” tegas Muslem.
Di sisi lain Ketua Harian KONI Aceh mengingatkan Pengprov PBVSI Aceh untuk berkoordinasi dengan jajaran KONI Kabupaten/kota dalam hal permintaan keikutsertaan even Pra PORA. Tanpa adanya koordinasi, maka tim yang diberangkatkan atas nama Kabupaten/Kota saangat berkemungkinan tak bisa ikut PORA walaupun diklaim telah lolos Pra PORA. “Masalahnya, mereka tak didaftarkan oleh KONI setempat ke PB PORA, sebagai cabor yang ikut PORA karena telah lolos Pra PORA. Kalau begini kan semua jadi sia-sia belaka,” tandas Kennedi.
Sejauh ini kegiatan Pra PORA Bola Voli telah beberapa kali dijadwalkan, namun kandas di tengah jalan, akibat friksi berkepanjangan di tubuh Pengprov PBVSI Aceh. Bahkan KONI Aceh selaku induk cabang olahraga, sempat mengancam akan mengambilalih kegiatan Pra PORA Voli Aceh. Belakangan muncul jadwal terakhir, jika Pra PORA Cabor Voli itu akan berlangsung Agustus 2026 mendatang.
Beberapa kalangan serta pegiat voli di Aceh termasuk unsur Pengcab serta jajaran beberapa klub terdepan di Aceh, berharap agar kisruh voli di Aceh segera diakhiri, Mereka meminta KONI Aceh bertindak cepat untuk menghubungi PB PBVSI Jakarta untuk mencari solusi tepat dan cepat atas kisruh berkepanjangan di tubuh Pengprov PBVSI Aceh. Termasuk bil perlu dengan membekukan Pengprov yang ada serta digantikan dengan penunjukan karetaker untuk dilaksanakan Musprovlub PBVSI Aceh. “Hanya dengan cara itu, dunia bola voli Aceh akan bergairanh lagi, karena diurus oleh sosok yang kredibel dan kompeten serta benar benar care terhadap dunia olahraga bola voli Aceh,” kata sebuah sumber dari kalangan Pengcab.
