BERITA RAKYAT ACEH | Sabang – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan di Kota Sabang. Sejumlah orang tua dan guru di Kecamatan Sukajaya mengeluhkan menu kering yang dibagikan pada Senin, 8 Desember 2025. Paket berisi roti, pisang, dan kacang goreng itu dinilai tidak layak disebut sebagai makanan bergizi, terlebih dengan alokasi anggaran Rp10.000 per porsi.
Salah seorang orang tua siswa, Pakrul, mengaku terkejut melihat isi menu yang dibawa pulang anaknya. Ia menilai komposisi tersebut sangat minim gizi dan tidak mencerminkan makanan layak bagi pelajar.
“Begitu saya lihat, saya langsung heran. Roti itu keras, saya khawatir picu asam lambung. Pisang itu pelancar buang air besar. Ini sama sekali tidak sebanding dengan sepuluh ribu rupiah anggaran per porsi. Anak-anak butuh makan layak dan bernutrisi, bukan jajanan,” ujar Pakrul, Senin (8/12/2025).
Ia juga mempertanyakan alasan pihak dapur yang mengaku kehabisan gas elpiji. Menurutnya, klaim tersebut tidak masuk akal karena menu yang disajikan justru memuat kacang goreng.
“Kalau gas tidak ada, kacang itu digoreng pakai apa? Pakai kayu? Lalu roti itu sudah berapa lama diproduksi? Anak saya bilang rotinya keras sekali,” tambahnya.
Keluhan serupa datang dari seorang guru di salah satu sekolah penerima manfaat. Menurutnya, ini merupakan kali kedua pihak sekolah menerima menu kering tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Anak-anak banyak sekali yang protes, mereka tanya kenapa menunya begini. Kami sebagai guru harus menjelaskan satu per satu sambil membagi ompreng. Waktu kami habis untuk menjelaskan dan menenangkan anak-anak yang kecewa,” ungkap guru tersebut.
Menanggapi hal itu, Kepala SPPG Sukajaya, Andika Pratama, memberikan klarifikasi. Ia menyebut perubahan menu terjadi karena keterbatasan bahan mentah dan kesulitan mendapatkan elpiji akibat terganggunya jalur logistik imbas banjir di wilayah Aceh.
“Roti sebagai sumber karbohidrat, kacang sebagai protein nabati, dan pisang sebagai buah,” jelasnya. Andika juga menegaskan bahwa pihaknya tetap berupaya memenuhi standar gizi dalam penyediaan menu MBG.
“Kami tetap bertanggung jawab dan berusaha maksimal memenuhi MBG bagi peserta didik dan posyandu, meskipun menghadapi sulitnya bahan mentah dan LPG,” tambahnya.
Sementara itu, Sabri, perwakilan Yayasan Kurnia Cahaya Permata selaku pengelola SPPG Sukajaya, memilih tidak memberikan penjelasan lebih jauh mengenai kecukupan gizi menu tersebut. Ia menyarankan agar hal itu ditanyakan langsung kepada Ahli Gizi SPPG. Namun Sabri mengakui bahwa menu hari itu dipengaruhi kelangkaan bahan pokok dan elpiji.
“Dapur sehari habisnya empat tabung, dan menu kering dibagikan karena lagi susah tabung gas. Perihal ada atau tidaknya gizi bisa tanyakan langsung ke Ahli Gizi,” ujarnya.
Diketahui, SPPG Sukajaya yang berlokasi di Jalan T. Nyak Arief, Gampong Ie Meulee, telah beroperasi sejak akhir Ramadan 2025. Pada hari yang sama, SPPG tersebut menyalurkan porsi MBG ke 13 sekolah dan 4 posyandu dengan total penerima manfaat mencapai 3.067 jiwa.
