Nazaruddin Bantah Tudingan Kekerasan: “Saya Berusaha Menghindar, Bukan Memukul”

 

BERITA RAKYAT ACEH | Sabang – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Nazaruddin, S.I.Kom, secara tegas membantah tudingan yang disampaikan FS, suami ML, terkait dugaan tindakan kekerasan yang disebut dilakukan terhadap istrinya.

Nazaruddin menilai tudingan tersebut tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lokasi. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan pemukulan terhadap ML sebagaimana yang dituduhkan.

Menurut Nazaruddin, peristiwa tersebut bermula ketika dirinya hendak bertemu dengan Hendra Handyan, Bendahara PWI Kota Sabang, di Rumah Makan Sabang Kopi Center yang berada persis di sebelah Kantor Sekretariat Daerah Kota Sabang.

Sebelum masuk ke rumah makan, Nazaruddin terlebih dahulu singgah di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Aceh yang berada di lokasi tersebut.

Saat hendak keluar dari area ATM, dirinya mengaku dipanggil oleh FS dengan nada yang menurutnya bernuansa mengejek.

“Saya langsung bilang, mau apa kamu. Di depan manis, di belakang habis jelekin aku di Facebook,” ujar Nazaruddin. Menurutnya, kalimat tersebut disampaikan dalam bahasa Aceh.

Nazaruddin kemudian mengungkapkan bahwa situasi berubah ketika ML tiba-tiba menyerangnya.

“Saat itu ML langsung hilang kendali dan menyerang saya. Kebetulan saya batuk, mungkin ada kecipratan air liur dan itu dianggap meludah,” jelasnya.

Ia membantah telah melakukan tindakan kekerasan. Bahkan, Nazaruddin mengaku justru berusaha menjaga jarak ketika terjadi keributan.

Menurutnya, ML juga sempat meludah ke arahnya. Ludahan tersebut, kata dia, ditahan menggunakan telapak tangannya sembari dirinya berusaha menghindari kontak fisik.

“Saya memang berusaha menjaga jarak karena saya sudah memprediksi bisa muncul fitnah, seolah-olah saya melakukan kekerasan,” katanya.

Nazaruddin juga mempertanyakan logika tudingan tersebut. Menurutnya, apabila benar dirinya melakukan pemukulan terhadap ML, maka FS yang berada di lokasi tentu akan memberikan reaksi sebagai suami.

“Logikanya, FS suaminya ada di situ. Apakah suami akan diam ketika istrinya dipukul orang?” ujarnya.

Nazaruddin Pertimbangkan Langkah Hukum

Atas tudingan tersebut, Nazaruddin menyatakan tengah mempertimbangkan langkah hukum. Ia berencana berkoordinasi dengan tim hukum untuk mengambil langkah terkait dugaan fitnah dan pencemaran nama baik melalui media elektronik.

“Saya akan berkoordinasi dengan tim hukum,” katanya.

Nazaruddin juga meminta agar dugaan adanya upaya membangun narasi yang tidak sesuai fakta tersebut turut menjadi perhatian aparat penegak hukum.

Ia bahkan menyarankan, apabila diperlukan dan sesuai mekanisme hukum, kondisi kejiwaan dan mental pihak yang bersangkutan dapat diperiksa oleh tenaga profesional. Menurutnya, hal tersebut penting apabila memang terdapat perbedaan persepsi atau keterangan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

“Kalau memang diperlukan, biarkan tenaga profesional yang memeriksa kondisi kejiwaan dan mentalnya. Jangan sampai persoalan ini berkembang menjadi tudingan yang tidak sesuai dengan fakta,” ujarnya.

Nazaruddin menegaskan, dirinya tidak ingin memberikan penilaian medis terhadap siapa pun. Namun, ia meminta agar seluruh keterangan yang disampaikan dalam persoalan tersebut dapat diuji secara objektif berdasarkan bukti dan saksi yang berada di lokasi.

Saksi: Tidak Ada Pemukulan

Sementara itu, Bendahara PWI Kota Sabang Hendra Handyan membenarkan bahwa dirinya berada di lokasi ketika perselisihan tersebut terjadi.

Hendra menegaskan bahwa sepanjang yang dilihatnya, tidak ada aksi pemukulan maupun kekerasan seperti yang dituduhkan.

“Saya ada di lokasi dan tidak ada aksi kekerasan,” kata Hendra.

Ia bahkan menilai tudingan adanya pemukulan tidak sesuai dengan apa yang disaksikannya secara langsung.

“Saya melihat Nazaruddin berusaha menghindar saat direlai oleh sejumlah orang di lokasi,” ujarnya.

Hendra mengatakan dirinya berada tidak jauh dari lokasi kejadian sehingga masih dapat melihat dengan jelas situasi yang berlangsung malam itu.

“Saya tidak jauh. Meskipun malam, masih terlihat jelas Tgk Agam berusaha menghindar, namun dikejar oleh ML,” katanya.

Hendra berharap persoalan tersebut tidak semakin melebar, terlebih jika kemudian berkembang menjadi konsumsi politik.

Ia meminta semua pihak menghormati proses hukum apabila persoalan tersebut memang telah dilaporkan kepada aparat berwenang.

“Kalau memang sudah dilaporkan, biarkan proses hukum berlangsung. Jangan berasumsi atau beropini kalau tidak melihat langsung,” tegas Hendra.

Nazaruddin pada prinsipnya menyerahkan seluruh persoalan tersebut kepada proses hukum. Ia berharap fakta kejadian dapat diuji secara objektif melalui keterangan para saksi dan alat bukti yang ada, bukan melalui narasi sepihak di media sosial.