Penerapan Syariat di Banda Aceh: Seolah “Panggang Jauh dari Api”

BERITA RAKYAT ACEH | Harapan masyarakat terhadap pasangan Illiza dan Afdhal yang terpilih memimpin Kota Banda Aceh sangat besar. Sebelumnya, kota ini terkesan tertinggal di berbagai sektor dan perkembangannya landai di bawah kepemimpinan mantan Walikota Gunting Pita yang lebih fokus pada memperindah tata kota. Kehadiran Illiza dan Afdhal diharapkan dapat “ngebut” mengejar target untuk mewujudkan Kota Banda Aceh yang madani.

Masyarakat menaruh kepercayaan besar karena Illiza pernah menunjukkan kemampuan ketika berpasangan dengan almarhum Mawardi. Kerja keras yang “sat set, push” membuatnya mendapatkan dukungan elektoral berkat Mawardi Effect, bahkan membuatnya dikenal luas dan membuat pelaku maksiat merasa tidak nyaman sehingga menjauhi ibu kota.

Kepopulerannya membuat rakyat mempercayainya untuk maju ke parlemen Senayan dari Partai yang berlambang Kakbah, dengan penegakan Syariat Islam sebagai kunci utama dalam kampanyenya. Ketika terpilih kembali memimpin Kota Banda Aceh, pasangan ini menetapkan Delapan Prioritas RPJM yang akan dilaksanakan, seperti yang disampaikan dalam rapat paripurna DPRK Kota Banda Aceh. Salah satu poin utama adalah pemahaman dan pengamalan Syariat Islam secara kaffah sebagai prioritas utama.

Namun, kini kondisi seolah mencerminkan peribahasa “panggang jauh dari api”. Kasus pelanggaran syariat justru menjadi preseden buruk di bawah kepemimpinannya. Angka prostitusi menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, dengan beberapa tempat seperti Hotel “K” di kawasan Lamprit, Hotel “W” di Penayong, hingga penginapan yang berkedok kos-kosan terindikasi sebagai sarana pelanggaran. Selain itu, enam lokasi di Batoh, Lampaseh, Penayong, dan Kedah juga diduga menjadi tempat prostitusi terselubung yang berkedok rumah makan dan semakin menjamur.

Belum lagi dugaan keterlibatan oknum petugas Satpol PP, WH, pamong gampong, kadus, dan petugas keamanan gampong dalam jaringan prostitusi yang dikelola secara profesional dan terstruktur. Rakyat merasa kecewa karena Illiza tampak lebih lembut, cuek, dan hilang semangat dalam melaksanakan penerapan Syariat Islam. Jika kondisi ini berlanjut, khawatir figur wanita seperti Cut Nyak Dhien yang menjadi inspirasi akan hanya tinggal cerita untuk dongeng anak-anak, bukan tradisi yang dapat diwariskan kepada pemimpin berikutnya.

HIV Merenggut Generasi Muda Banda Aceh

Dinas Kesehatan Provinsi Aceh dalam pernyataannya kepada media massa mengungkapkan bahwa kasus HIV di Aceh terus meningkat, khususnya pada kalangan remaja. dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025 tercatat 32 kasus baru pada kelompok usia 11–20 tahun, seperti yang dibahas dalam temu dengan RRI Banda Aceh pada Rabu (17/9/2025) pagi.

Dari data tahun 2004 hingga 2025, tercatat sebanyak 132 kasus HIV pada kelompok usia yang sama. Dengan peningkatan kasus yang signifikan pada tahun 2025, pertanyaan muncul apakah Walikota akan tetap diam atau segera mengambil tindakan.

Illiza Dapat Menggerakkan Organisasi Agama dan OKP

Beberapa organisasi agama telah menyatakan siap secara lantang untuk turut serta dalam pencegahan tindakan maksiat. “Kami siap bersama untuk pencegahan preventif terhadap maksiat,” ucap mereka—bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang siap diwujudkan dengan dukungan Walikota.

Illiza memiliki wewenang untuk menggerakkan langkah bersama dengan organisasi dan OKP. Mereka hanya menunggu arahan untuk bergerak secara bersama-sama. Langkah yang dapat dilakukan antara lain bekerja sama dengan masyarakat dan organisasi yang telah mengumpulkan bukti aktivitas haram, mengikuti proses hukum terhadap setiap individu yang terlibat, memberhentikan oknum pamong gampong yang terlibat, membersihkan jajaran Satpol PP dan WH dari elemen yang tidak bertanggung jawab, memperketat pengawasan terhadap hotel dengan penempatan petugas di setiap lokasi, serta membuka jalur aspirasi melalui nomor hotline khusus agar rakyat dapat berkomunikasi langsung dengan Walikota.

Jika langkah-langkah ini diwujudkan, Kota Banda Aceh akan kembali menjadi kota yang madani dan Islami, generasi muda akan terhindar dari ancaman HIV yang mematikan, dan Illiza dapat berdiri kokoh seperti Cut Nyak Dhien sang pejuang dari Banda Aceh. Semoga demikian.

Penulis: Putra Raichan
Lulusan Dayah dan pemerhati sosial yang sering melakukan riset terhadap persoalan maksiat di Kota Banda Aceh.