BERITA RAKYAT ACEH | Kota Jantho – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Besar memberikan klarifikasi terkait laporan yang menyebutkan adanya kekosongan obat hingga lima bulan. Pihak rumah sakit menegaskan informasi tersebut tidak benar dan perlu diluruskan.
Direktur RSUD Aceh Besar, dr. Bunaiya Putra, MKM, Rabu (22/4/2026), menyatakan bahwa secara logika operasional, rumah sakit tidak mungkin tetap berjalan jika benar terjadi kekosongan obat dalam waktu yang lama.
“Ini jelas tidak benar. Jika sampai lima bulan terjadi kekosongan obat, tentu operasional rumah sakit sudah terhenti sejak lama. Yang terjadi sebenarnya hanya kekosongan sementara pada beberapa jenis obat, dan itu pun segera terpenuhi dalam waktu singkat,” ujar Bunaiya.
Ia menjelaskan, manajemen RSUD secara rutin meminta staf di bidang farmasi untuk mendata obat-obatan yang stoknya menipis atau terbatas. Pendataan tersebut menjadi dasar untuk melakukan pengadaan secepat mungkin guna menghindari kekosongan berkepanjangan.
“Langkah ini kami lakukan secara disiplin dan berkelanjutan agar pelayanan kepada masyarakat tetap optimal,” tambahnya.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Farmasi, Apoteker Ika Darmiati, menegaskan bahwa yang terjadi bukanlah kekosongan total, melainkan keterbatasan pada beberapa item obat tertentu. Dalam kondisi tersebut, pihak rumah sakit tetap memberikan solusi dengan mengganti obat menggunakan alternatif yang memiliki fungsi serupa.
“Misalnya untuk beberapa jenis obat seperti insulin tertentu atau pengencer darah, jika stok utama terbatas, kami siapkan alternatif lain dengan khasiat yang sama,” jelas Ika.
Ia juga menambahkan bahwa untuk layanan Poli Jantung yang mulai beroperasi awal tahun ini dan mengalami peningkatan jumlah kunjungan pasien, pihak farmasi telah berkoordinasi dengan dokter spesialis guna memastikan ketersediaan obat.
“Kami sudah meminta daftar kebutuhan obat dari dokter spesialis jantung, dan saat ini sudah terpenuhi,” katanya.
Sementara itu, tenaga medis di lini depan pelayanan, dr. Yanti Trisnawati, Sp.PD dan dr. Yulidar, menyampaikan bahwa koordinasi antara dokter dan pihak farmasi terus dilakukan untuk memastikan pasien tetap mendapatkan penanganan yang optimal.
“Jika terjadi kekosongan pada obat tertentu, kami segera mencari alternatif dengan fungsi yang sama. Biasanya jedanya sangat singkat,” ujar dr. Yanti.
Namun, dalam kondisi tertentu di mana obat benar-benar tidak tersedia dan bersifat mendesak, pihak rumah sakit akan mengambil langkah rujukan ke rumah sakit lain, seperti RSUD Zainoel Abidin di Banda Aceh.
“Kami pastikan pasien tetap mendapatkan pelayanan terbaik, termasuk melalui rujukan jika diperlukan,” pungkasnya.(**)
