
BERITA RAKYAT ACEH | BANDA ACEH – Ketua Asosiasi Pelatih Sepakbola Indonesia (APSI) Aceh, Sulaiman Romario meminta Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PSSI Aceh, Rudi Yulianto, segera membuka komunikasi dengan seluruh pegiat sepakbola di Tanah Rencong, terutama para voter yang memiliki hak suara dalam Kongres PSSI Aceh.
Sulaiman mengatakan, sejak resmi menjabat Plt Ketua PSSI Aceh pada 20 Oktober 2026, belum terdengar adanya konsolidasi atau pertemuan antara Rudi Yulianto dengan para pemilik suara tersebut.
“Yang terdengar cuma penunjukan Plt Sekum dan sejumlah Plt direktur lainnya,” tutur mantan pemain dan Pelatih Persiraja Banda Aceh itu.
Menurut Sulaiman, Plt Ketua PSSI Aceh semestinya membangun komunikasi dengan seluruh insan sepakbola, khususnya para voter.
Sebab, mereka memiliki peran penting dalam menentukan pucuk pimpinan PSSI Aceh ke depan.
“Semestinya, Plt Ketua PSSI Aceh membuka komunikasi dengan semua insan sepakbola, terutama para voter,” sarannya.
“Karena bagaimana pun merekalah yang nantinya akan menjadi penentu siapa nakhoda PSSI Aceh ke depan,” urai mantan Pelatih Pra-PON Aceh tersebut.
Ia menyebutkan, sejak Kongres PSSI Aceh yang berlangsung pada 3 Oktober 2026 di Sigli tidak diakui Pusat, para voter mulai merasa resah dan khawatir terhadap kelanjutan organisasi. Keresahan itu semakin meningkat menyusul beredarnya rumor mengenai rencana pergantian besar-besaran ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) dan Asosiasi Kota (Askot) PSSI se-Aceh.
“Keresahan ini harus bisa diredam Plt Ketua PSSI Aceh. Para ketua Askab/Askot saat ini semua khawatir karena santer isu mereka semua akan diganti,” papar eks Direktur Teknis (Dirtek) PSSI Aceh ini.
Jika penggantian besar-besaran seperti rumor tersebut benar-benar dilakukan Plt Ketua, saya takut ini akan memicu konflik besar di tubuh PSSI Aceh,” ulasnya.
Sulaiman mengakui, Plt Ketua PSSI Aceh memiliki kewenangan untuk mengevaluasi bahkan mengganti ketua Askab/Askot yang dinilai tidak menunjukkan kinerja baik.
Namun, menurutnya, pergantian secara besar-besaran tanpa alasan yang jelas berpotensi menimbulkan gejolak dan perlawanan dari berbagai pihak.
“Jika melakukan perombakan secara besar-besaran tanpa alasan yang jelas, tentu ini akan menimbulkan gejolak dan perlawanan keras,” papar Sulaiman.
“Sehingga kisruh di PSSI Aceh bukannya mereda, justru makin memburuk,” tandasnya.
Karena itu, Sulaiman mengusulkan agar Rudi Yulianto segera menggelar pertemuan tatap muka dengan para voter untuk mendengarkan aspirasi sekaligus menjelaskan arah pembenahan organisasi.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dimilikinya, saat terdapat 40 voter di tubuh PSSI Aceh, terdiri atas 23 Askab/Askot, 16 klub, dan Asosiasi Futsal Aceh.
“Diakui atau tidak, merekalah saat ini voter PSSI Aceh, jadi Plt Ketua mesti merangkul dan mengajak duduk mereka,” sarannya.
Sulaiman optimistis komunikasi yang dibangun secara terbuka dapat membuahkan dukungan dari para voter terhadap kepemimpinan Rudi Yulianto sebagai Plt Ketua PSSI Aceh.
“Jadi saran saya, Plt Ketua segeralah membuka jalur komunikasi dengan para voter, rangkul dan ajak diskusi mereka untuk PSSI Aceh yang lebih baik ke depannya,” ucapnya.
Pertanyakan Peran Plt Sekum
Di sisi lain, Sulaiman Romario juga menyoroti kinerja Plt Sekretaris Umum (Sekum) dan empat Plt direktur PSSI Aceh yang sudah ditunjuk secara resmi via surat dari PSSI Pusat.
Menurut dia, belum terlihat kiprah Plt Sekum dan para Plt direktur dalam membantu pembenahan organisasi.
Padahal, jajaran tersebut ditunjuk untuk mendukung Plt Ketua menyelesaikan persoalan di tubuh PSSI Aceh.
“Jika memang tidak berfungsi atau tidak punya waktu karena menyandang jabatan lain, mundur saja biar Plt Ketua bisa menunjuk orang lain yang bisa bekerja maksimal,” pungkas Sulaiman.(*)
