HAkA dan MAA Aceh Singkil Gelar Diskusi Buku “Rawa Singkil Adalah Hidup Kami,” Perkuat Narasi Perlindungan Suaka Margasatwa Rawa Singkil

BERITA RAKYAT ACEH I Banda Aceh – Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) bersama Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Singkil menyelenggarakan Diskusi Buku “Rawa Singkil adalah Hidup Kami” di Hotel Ayani, Banda Aceh, Kamis (25/6). Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk memperoleh masukan dan rekomendasi terhadap naskah buku sebelum dipublikasikan kepada masyarakat luas.

Buku “Rawa Singkil adalah Hidup Kami” merupakan inisiatif HAkA bersama MAA Kab. Aceh Singkil yang mendokumentasikan sejarah, kondisi ekologis, nilai sosial budaya, kearifan lokal masyarakat, serta berbagai tantangan dalam menjaga Suaka Margasatwa Rawa Singkil (SMRS) sebagai bagian penting dari bentang alam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Buku ini menegaskan bahwa hubungan masyarakat dengan Rawa Singkil tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas, pengetahuan lokal, dan cara hidup yang diwariskan lintas generasi.

Dalam sambutannya, Manager Legal dan Advokasi bidang Non-Litigasi, Yayasan HAkA, Nurul Ikhsan, menyampaikan bahwa penyusunan buku ini merupakan upaya untuk merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap pentingnya SM Rawa Singkil sebagai kawasan konservasi yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan budaya yang sangat tinggi. “SM Rawa Singkil bukan sekadar kawasan hutan rawa gambut, tetapi ruang hidup bagi masyarakat dan habitat penting bagi keanekaragaman hayati. Melalui buku ini, kami ingin menghadirkan perspektif masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan tersebut sekaligus memperkuat upaya perlindungannya,” ujar Ikhsan.

SM Rawa Singkil dikenal sebagai habitat dengan kepadatan populasi orangutan Sumatera tertinggi di dunia. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi ratusan jenis flora dan fauna yang memiliki nilai konservasi tinggi. Selain fungsi ekologisnya sebagai penyimpan air, pengendali banjir, dan penyerap karbon, SM Rawa Singkil memiliki peran penting dalam menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Namun demikian, kawasan ini masih menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perambahan lahan, ekspansi perkebunan kelapa sawit, hingga kehilangan tutupan hutan yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya dokumentasi pengetahuan dan pengalaman masyarakat dalam menjaga SM Rawa Singkil melalui buku ini. Diskusi menghadirkan Ahmady sebagai penulis buku, dengan tanggapan dari Thabrani Yunis selaku Pegiat Literasi dan juga Pendiri Majalah Potret dan Majalah Anak Cerdas yang menyoroti pentingnya penguatan narasi dan strategi penyebarluasan isu lingkungan kepada publik, serta Zakirun Pohan, Ketua MAA Kab. Aceh Singkil, yang menekankan kuatnya relasi masyarakat adat dengan SM Rawa Singkil.

“Menggambarkan kondisi terkini, potensi ancaman yang dihadapi, ragam kearifan lokal dan pergeseran budaya yang berkembang, perjuangan masyarakat dalam menjaga ekosistem, kampanye pelestarian, peringatan atas banyaknya korporasi yang mengintai kekayaan, serta penjelasan kondisi kerusakan yang terus terjadi di SM Rawa Singkil merupakan beberapa poin utama yang diceritakan dalam Buku ini,” Ujar Penulis Buku, Ahmady.

Ketua MAA Kab. Aceh Singkil, Zakirun Pohan menilai buku ini memperdalam sejumlah aspek historis dan kebudayaan lokal, seperti penggunaan istilah yang perlu disesuaikan dengan Kamus Bahasa Singkil, serta penelusuran sejarah lain yang memiliki keterkaitan dengan kawasan tersebut.

“Dalam upaya menjaga kelestarian SM Rawa Singkil, penting didorong adanya pengelolaan yang lebih terintegrasi, termasuk pengaturan akses masuk kawasan melalui jalur yang terkontrol serta penguatan prinsip-prinsip konservasi berbasis adat. Hal ini diperuntukan agar semangat pelestarian diwujudkan melalui gerakan menanam kembali pohon untuk setiap pohon yang ditebang sebagai bentuk tanggung jawab ekologis bersama,” Ujar Zakirun.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa masyarakat pemegang hak ulayat harus dilibatkan secara langsung dalam pengelolaan dan pengawasan kawasan. Menurutnya, masyarakat setempat merupakan pihak yang paling memahami kondisi lapangan dan dapat berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga Rawa Singkil dari berbagai ancaman kerusakan.

“Pelestarian Rawa Singkil tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat adat dan pemilik hak ulayat sebagai bagian utama dari sistem pengelolaan kawasan,” tegas Zakirun.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan organisasi masyarakat sipil, akademisi, lembaga konservasi, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Para peserta memberikan beragam masukan terkait substansi, sistematika penulisan, penguatan data, serta perspektif sosial dan budaya yang perlu diperdalam dalam naskah buku.

Melalui forum ini, HAkA berharap dapat menghasilkan rekomendasi yang konstruktif untuk penyempurnaan buku sebelum diterbitkan. Selain itu, diskusi ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi multipihak dalam mendorong perlindungan dan pelestarian Rawa Singkil secara berkelanjutan.

“Menjaga Rawa Singkil berarti menjaga keanekaragaman hayati, kearifan lokal, serta masa depan masyarakat yang bergantung pada bentang alam tersebut. Buku ini diharapkan menjadi media edukasi dan advokasi yang dapat memperluas kepedulian publik terhadap pentingnya perlindungan Rawa Singkil,” tutup Ikhsan.