BERITA RAKYAT ACEH | Padangpanjang,- Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pers Pituluik ISI Padangpanjang menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Mahasiswa (PJTM) di Gedung Rektorat ISI Padangpanjang, pada tanggal 28–29 September 2025l6. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memperkuat kemampuan jurnalistik sekaligus memahami etika dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Ujar Adzkia Dwi Putri Pimpinan Umum Pituluik
Ketua Pelaksana PJTM, Fajri Rahmat Illahi mengatakan, Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai upaya menanamkan pemahaman serta kesadaran mengenai etika dalam dunia jurnalistik. Pemahaman terhadap etika tersebut menjadi hal penting bagi mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan pers, khususnya pers mahasiswa. Tuturnya.
Adzkia Dwi Putri menambahkan, Kegiatan PJTM diharapkan dapat membangun ekosistem pers yang kreatif, kritis, dan bertanggung jawab. Pemahaman yang diperoleh selama kegiatan juga diharapkan dapat diterapkan dalam aktivitas organisasi Pers Pituluik. Bagaimana membangun ekosistem pers yang kreatif, kritis, dan bertanggung jawab. Hal tersebut nantinya dapat diaplikasikan dalam organisasi pers mahasiswa. Tuturnya.
Pembimbing LPM Pers Pituluik Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., mengatakan, PJTM kali ini merupakan pelaksanaan kedua yang diselenggarakan oleh LPM Pers Pituluik ISI Padangpanjang. Kini tekunlah mengikuti Diklat ini yang diberikan oleh punggawa-punggawa Jurnalistik di Sumatera Barat ini. Dapatkan ilmu tersebut untuk menghidupan Pers kampus ditempat anda masing-masing. Tuturnya.
Rektor ISI Padang Panjang Dr. Febri Yulika, S.Ag., M. Hum., menyatakan,; Perkembangan media digital dan tantangan yang dihadapi jurnalis di tengah derasnya arus informasi. Menurutnya, perkembangan media digital membuat setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan informasi. Namun, kemampuan untuk melihat fakta secara tajam, memverifikasi informasi, serta memahami etika dan tanggung jawab dalam menulis tetap menjadi hal penting yang harus dimiliki seorang jurnalis. Ujarnya.
Febri Yulika menambahkan, Kemampuan jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana seorang jurnalis mampu melihat persoalan secara kritis dan memastikan informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan. Paparnya.
Pemaparan Materi PJTM Pers Pituluik Bahas Etika Jurnalistik dan Penguatan Media Kampus
Sesi pertama menghadirkan narasumber Direktur dan General Manager Posmetro Padang (Jawa Pos Group) Firdaus Abie dengan materi “Pentingnya menjaga martabat, etika, dan profesionalitas dalam menjalankan tugas jurnalistik” .
Firdaus menjelaskan, Dunia pers terdapat dua pedoman yang menjadi dasar dalam menjalankan profesi, yaitu Kode Etik Jurnalistik dan kode perilaku. Wartawan tidak hanya menjalankan pekerjaan sebagai sebuah profesi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. Wartawan bukan sekadar profesi, tapi jalan pengabdian. Ia menyambung lidah kebenaran, penjaga nalar hoaks, mencatat tanpa pamrih,” ujarnya.
Firdaus menambahkan, Seorang jurnalis harus mampu menggunakan mata, telinga, hati, dan iman dalam menjalankan tugasnya. Mata digunakan untuk melihat fakta dan kondisi secara langsung, telinga untuk mendengarkan informasi, hati untuk memahami kondisi manusia yang diberitakan, serta iman sebagai landasan moral dalam menjalankan pekerjaan. Wartawan yang bermartabat adalah mereka yang tidak dapat dibeli, tidak menjilat, serta tidak menggunakan profesinya untuk menakut-nakuti pihak lain. Jurnalis juga dituntut untuk bersikap independen, menolak gratifikasi, berani menyampaikan kebenaran, dan tetap rendah hati. Terkait posisi pers mahasiswa yang berada di lingkungan kampus, batas independensi pers terhadap otoritas kampus, termasuk ketika terdapat permintaan untuk menarik berita yang telah dipublikasikan. Jurnalis tidak terburu-buru menerbitkan berita sebelum informasi yang diperoleh lengkap dan berimbang. Paparnya.
Sesi kedua menghadirkan Pimpinan Redaksi Harian Umum Rakyat Sumbar Revdi Iwan Syahputra mengatakan, Media kampus dapat membangun identitas, kepercayaan, dan hubungan yang berkelanjutan dengan pembacanya. Ia menjelaskan bahwa media tidak hanya membutuhkan kemampuan dalam menghasilkan berita, tetapi juga perlu memahami alasan pembaca memilih dan kembali mengakses media tersebut. Ujarnya.
Revdi menambahkan, Branding sebuah media tidak sekadar berkaitan dengan logo. Branding juga mencakup identitas, konsistensi dalam menampilkan karakter media, pengalaman yang dirasakan pembaca, serta kepercayaan terhadap informasi yang disampaikan. Paparnya.
Revdi menekankan,
Viralitas dapat memberikan perhatian terhadap sebuah media, tetapi perhatian tersebut perlu diikuti dengan kepercayaan dan loyalitas pembaca. Karena itu, keberhasilan media tidak hanya diukur dari jumlah orang yang melihat suatu berita, tetapi juga dari seberapa banyak pembaca yang memilih untuk kembali.
Jadi, media kampus sebagai sebuah ekosistem yang terdiri atas media, komunitas, kegiatan, kreativitas, alumni, dan mitra. Menurutnya, media kampus tidak harus hanya bergantung pada tulisan sebagai produknya, tetapi dapat mengembangkan berbagai kegiatan dan produk kreatif yang dapat memperluas hubungan dengan audiens. Ujarnya (Nabila)
